Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan

Kisah Keislaman Saad bin Abi Waqqash

Di zaman Rasulullah tersebutlah seorang pemuda berusia tujuh belas tahun yang bernama Saad bin Abi Waqqash. Suatu hari pemuda itu berkata, "Pada suatu malam, di tahun ini, saya bermimpi seolah-olah tenggelam di dalam kegelapan yang bertumpuk-tumpuk. Ketika saya terbenam di dalam kegelapan itu, tiba-tiba ada cahaya bulan yang menerangiku. Saya kemudian mengikuti arah cahaya itu dan saya dapati di sana ada sekelompok manusia, di antara mereka terdapat Zaid bin Haritsash, Ali bin Abi Thalib, dan Abu Bakar Ash-Shidiq. Saya bertanya, "Sejak kapan kalian ada di sini?" Mereka menjawab, "Satu jam."

Manakala siang telah muncul, saya mendengar suara dakwah Muhammad saw. kepada Islam. Saya meyakini bahwa saya sekarang berada di dalam kegelapan dan dakwah Muhammad saw. adalah cahaya itu. Maka, saya pun mendatangi Muhammad dan aku dapati orang-orang yang kujumpai dalam mimpi, ada di samping beliau. Maka, aku pun masuk Islam.

Tatkala ibu Sa'ad mengetahui hal ini, dia mogok makan dan minum, padahal Sa'ad sangat berbakti kepadanya sehinga dia merayunya setiap waktu mengharapkannya untuk mau makan walau hanya sedikit, tapi ibunya menolak. Manakala Sa'ad melihat ibunya tetap teguh berpendirian, dia berkata kepadanya, "Wahai ibu! Sesungguhnya saya sangat cinta kepadamu, namun saya lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya. Demi Allah, seadainya engkau mempunyai seratus nyawa lalu keluar dari dirimu satu persatu, aku tidak akan meninggalkan agamaku ini demi apapun juga."

Tatkala sang ibu melihat keteguhan hati anaknya, dia pun menyerah lalu kembali makan dan minum meskipun tidak suka. Allah kemudian menurunkan ayat tentang mereka yang artinya, "Jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kaum mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik." (Luqmaan: 15)

Maha Benar Allah yang Maha Agung.

Sumber: Asyabalunal 'Ulama (65 Kisah Teladan Pemuda Islam Brilian), Muhammad Sulthan.
Read On 0 komentar

Ketika Hati Bersimpuh Di Hadapan Ilahi

Ma`iz bin Malik datang menemui Rasulullah saw. seraya berkata :”Ya Rasulullah, bersihkanlah saya dari dosa yang telah saya lakukan.” Rasulullah saw. menjawab: “Celaka engkau ! Pulanglah , Mintalah ampun kepada Allah swt. dan bertaubatlah kepada-Nya !”. Ma`iz lalu berpaling, tapi tidak berapa jauh dari tempat itu, ia kembali lagi menghadap Rasulullah saw. dan berkata lagi :”Ya, Rasulullah. Suci kanlah diri saya dari dosa yang telah saya lakukan.” Nabi saw pun berkata seperti sebelumnya, sampai terulang kejadian semacam itu tiga kali. Dan ketika untuk keempat kalinya Ma`iz menghadapnya dan mengulangi perkataannya itu, maka Rasul akhirnya bertanya kepadanya :”Dalam perkara apa ?”, ia menjawab :”Dari perbuatan zina”. Kemudian Rasulullah saw bertanya kepada yang hadir ketika itu: “Apakah ia gila ?”, dan salah seorang sahabat mengabari bahwa Ma`iz sama sekali tidak gila. “Apa ia mabuk khamr ?” tanya Rasulullah saw selanjutnya. Lalu salah seorang di antara para sahabat itu bangkit dan mencium nafas yang keluar dari mulut Ma’iz, namun ia sama sekali tidak mencium bau minuman keras. Kemudian Rasulullah saw. mengintrogasinya :”Apa engkau telah berzina ?”, Ma`iz menjawab: “Benar, ya Ra sulullah.” Segera Rasulullah saw memerintahkan kepada para sahabat untuk merajamnya. Pada saat itu, yang hadir terbagi menjadi dua kelompok, yaitu pihak yang tidak senang atas perbuatan zina dengan berpendapat :”Celakalah, ia telah terjerat oleh dosa-dosanya.” Sedang pihak yang simpati atas pengakuan Ma`iz mengatakan : “Tidak ada taubat yang melebihi taubatnya Ma`iz.” Akhirnya Ma`iz menghampiri Rasulullah saw, dan berjabat tangan dengannya. Kemudian ia berkata :”Lemparilah aku dengan batu-batu sampai aku mati.” Maka ia dirajam dua atau tiga hari, kemudian datanglah Rasul sambil memberikan salam kepada para sahabat yang sedang duduk, dan beliau pun ikut duduk. Lantas Rasulullah saw. berkata :”Mintalah ampunan kepada Allah swt untuk Ma`iz bin Malik, sungguh ia telah benar-benar bertaubat kepada Allah swt, seandainya taubatnya itu kamu bagi-bagikan kepada satu ummat pasti akan mencukupinya.”

Beberapa hari sesudah itu, tiba-tiba datang seorang wanita dari daerah Ghamid menghadap Rasulullah saw seraya berkata :”Ya Rasulullah saw., sucikanlah diriku dari dosa-dosa yang telah aku lakukan.” Rasul menjawab :”Celakalah engkau, pulanglah!, mintalah ampun kepada Allah swt dan bertaubatlah kepada-Nya!”. Namun wanita itu kemudian bertanya :”Apakah tuan akan mengulangi sikap tuan terhadap Ma`iz kemarin kepada saya?”. “Ada apa dengan anda ?” Rasul bertanya kepadanya. Sambil mengusap perutnya yang sedang hamil, wanita itu menjawab :”Kehamilanku ini adalah hasil dari perbuatan mesum yang aku lakukan bersama Ma`iz!”. Dengan terkejut Rasûlullâh saw berkata :”Jadi engkau adalah wanita yang dihamilinya?”. Wanita itu menjawab “Benar!”. Baiklah, tunggu sampai engkau melahirkan anak yang ada dalam perutmu ini.” (Diriwayatkan dari Buraidah). Buraidah selanjutnya berkata :”Kemudian wanita itupun dirawat oleh seorang Anshar sampai akhirnya ia melahirkan anaknya. Kemudian ia pun kembali mendatangi Rasulullah saw dan berkata :”Aku telah melahirkan bayi dalam kandunganku”. Namun Rasulullah saw menjawab :”Tetapi saya tidak akan merajamnya dengan meninggalkan bayinya tanpa seorangpun yang menyusuinya.” Saat itu tampillah seorang dari kaum Anshar seraya berkata :”Saya akan menanggung penyusuannya ya Nabiyullah.” Selanjutnya Buraidah berkata :”Kemudian dirajamnya wanita itu.” (HR.Muslim No.1695).

Dalam riwayat An-Nasa`i, disebutkan bahwa Rasulullah saw memerintahkan menggali sebuah lubang dan mengubur wanita itu sampai ke dadanya, kemudian memerintahkan kepada kaum muslimin untuk merajamnya. Pada saat itu datanglah Khalid bin al-Walid dengan menggenggam sebuah batu dan melemparkannya ke arah wanita itu, sehingga darahnya memercik mengenai wajah atau dahi Khalid. Melihat itu, Khalid pun menyumpahi wanita itu, Rasulullah saw mendengar umpatan Khalid, dan memperingatinya :”Wahai Khalid, jangan engkau berkata demikian, demi Zat Yang jiwaku berada ditangan-Nya, Sungguh wanita ini telah melakukan taubat yang sebenar-benarnya, yang apabila taubatnya dibagikan kepada satu kaum pasti akan mencukupinya.” Setelah itu Rasulullah saw. memerintahkan mengangkat mayat wanita itu untuk di shalatkan dan dikuburkan. (HR.An-Nasa`i, dalam As-Sunan Al-Kubra, No. 7197). Dari fakta historis Islam ini, kita dapat menangkap betapa tingginya kesadaran kaum muslimin terdahulu terhadap penarapan syariat Islam, kisah Ma`iz bin Malik dan kekasihnya merupakan salah satu dari banyak contoh tentang kesadaran dan semangat penerapan syariat Allah. Meski tidak ada seorang pun mengetahui perbuatan zina yang mereka lakukan, dan sekalipun terbuka berbagai kesempatan untuk terhindar dari jeratan hukum atas perbuatan mesum yang dilakukannya, namun mereka berdua menutup semua pintu dan celah itu bagi dirinya, bahkan sebaliknya ia mengakui segala kesalahannya dan memohon untuk diterapkan hukum pidana Islam atas dirinya. Ungkapan historis yang terlontar dari Ma`iz dan kekasihnya, “Bersihkan diri saya, ya Rasulullah !”, mencerminkan suatu kesadaran yang kuat, mengalahkan keinginan manusiawi mereka berdua untuk tetap survival (bertahan hidup) di dunia yang fana ini. Mereka berdua lebih senang memilih disucikan dari dosa melalui rajam terhadap perbuatan yang tidak diketahui oleh siapa pun selain Allah swt dan terbebas dari pengadilan akhirat, daripada menutup-nutupi kesalahan dirinya demi untuk tetap mempertahankan keinginan menikmati manisnya kehidupan dunia sambil bermohon ampunan kepada Allah atas kesalahannya, yang siapa tahu akan dapat di ampuni-Nya juga tanpa melalui hukum rajam tersebut.Kekuatan kesadaran dan ketetapan hati yang mantap yang dimiliki Ma`iz dan kekasihnya, maupun para sahabat lainnya r.a tidak semata-mata muncul begitu saja me lainkan lahir dari sebuah konsepsi yang sama di kalangan mereka mengenai wahyu Allah swt, sebuah konsepsi yang terpatri kuat dalam hati dan pikiran mereka, konsepsi yang ditanamkan oleh Rasulullah saw melalui berbagai peperangan, dakwah, dan berbagai cobaan kehidupan dunia, dan dengan konsepsi ini mereka mampu mene rapkan syariat Islam dan menciptakan keadilan, perluasan wilayah pembebasan dan menjaga stabilitas regional. Bahkan melalui konsepsi ini terbentuklah komunitas Muslim yang pertama secara unik (QS. 3 : 110). Konsepsi itu adalah keharusan bagi mereka untuk menerima al-Qur`an dan melaksanakannya dalam kehidupan keseharian, baik yang berkaitan dengan segala urusan pribadi maupun dalam komunitas yang hidup bersamanya (Q.S. 2 : 285). Sikap mereka kepada al-Qur`an tak ubahnya bagaikan prajurit yang menerima “perintah harian” di lapangan, dengan segera melaksanakannya setelah mendengar perintah tersebut. Dari Ibnu Mas`ud r.a. berkata : “Dahulu kami, jika mempelajari 10 ayat kami tidak melaluinya sehingga kami mengerti maknanya dan mengimplementasikannya”. (Lihat “Tafsir Al Qur`an Al`Azhim” Ibnu Katsir, dalam Muqaddimah At-Tafsir / 22). Konsepsi ini sangat berbeda dengan sistem kajian sebagian orang “Tokoh pembaharu Islam” dalam menelaah al-Qur`an. Mereka tidak menghadap al-Qur`an untuk dimplementasikan melainkan hanya untuk mengkritisi, mengkoreksi bahkan merombak tatanan nilai di dalamnya. Kalau dulu para sahabat sebelum menghadap ke al-Qur`an membuang terlebih dahulu segala persepsi dan ketentuan pribadinya, untuk selanjutnya mengambil jawaban al-Qur`an atas segala pertanyaan yang bergejolak dalam diri mereka, sedang para “Tokoh pembaharu Islam” menghadap al-Qur`an dengan membawa persepsi dan ketentuan personal sebagai parameternya dalam menilai atau menafsirkan al-Qur`an untuk kemudian mencari dalil yang membenarkan apa yang telah ada dalam pemikiran dan benak mereka. Sehingga lebih mudahnya mereka menjadikan akal mereka sebagai timbangan terhadap wahyu. Maka wajar sekali apabila karya-karya mereka banyak mengandung kerancuan dan jauh dari semangat Qur`ani. Sampa-sampai seorang penafsir mengatakan bahwa nash al-Qur`an wajib ditakwilkan agar cocok dengan pemahaman akal !, suatu prinsip yang berbahaya mengingat wahyu dan akal bukanlah merupakan dua hal yang sepadan karena wahyu adalah pokok rujukan bagi akal, yang menimbang dan menguji kesimpulan serta meluruskan kekurangan dan penyimpangan akal. Sesungguhnya menerima otoritas wahyu tidaklah berarti mendepak akal , diantara keduanya tentu saja terdapat kesesuaian dan keserasian, namun akal bukanlah pemegang keputusan terakhir. Ringkasnya, menjadikan kitab Allah swt sebagai sumber petunjuk satu-satunya dalam kehidupan dan mengembalikan segala masalah hanya kepada-Nya merupakan suatu keharusan dari setiap diri kita. Kita sama-sama bersepakat bahwa dalam menanggulangi masalah kerusakan sebuah pesawat terbang, kita harus memanggil seorang insinyur yang membuat pesawat itu, dan kita sama-sama bersepakat bahwa seorang pilot yang akan mengoperasionalkan suatu pesawat terbang harus mengikuti buku petunjuk operasional pesawat yang dikeluarkan dari perusahaan yang memproduksinya. Tetapi mengapa kita tidak mau menerapkan prinsip ini dalam diri kita sendiri. Allah swt lah yang menciptakan kita dan hanya petunjuk-Nya yang benar. Sedang kita mengetahui bahwa pegangan yang mantap dan pengarahan yang benar hanyalah : Katakanlah:”Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)”. (QS. 2:120)


sumber : http://labbaik.worldpress.com
http://www.aldakwah.org/
Read On 0 komentar

Benteng Terakhir Barshisha

Seribu satu cara untuk menggoda manusia. Itulah sumpah Iblis terlaknat dalam memburu anggota. Pantang mundur sebelum menang, siapa pun dihadapi. Semakin teguh yang dibujuk rayu, semakin canggih pula cara yang ditempuh. Dengan keuletan Iblis ini, jatuh pula Imam Barshisha, manusia alim tiada tara.
Siapa Barshisha, seorang ulama yang dikisahkan bahwa selama 200 tahun hayatnya tidak pernah berbuat maksiat, walau hanya sekejap. Diceritakan pula, berkat ibadah dan kealimannya, 9.000 muridnya bisa berjalan di atas bumi. Sampai-sampai malaikat pun kagum terhadap hamba Allah yang satu ini.

Tetapi, apa kata Allah atas kekaguman malaikat kepada Barshisha, “Apa yang kamu herankan darinya ? Sesungguhnya aku lebih mengetahhui dari apa yang tidak pernah kamu ketahui. Dan, sesungguhnya Barshisha dalam pengetahuanku,” kata Allah. Pada akhir hidupnya, Barshisha yang terkenal alim itu, berbalik menjadi kafir dan masuk neraka selama-lamanya, hanya sebab minum khamr (minuman keras). Mendengar perkataan Allah ini, Iblis merasa menemukan kunci kelemahan Barshisha. Maka datanglah Iblis ke biara Barshisha dengan menyamar sebagai orang yang alim, dengan mengenakan kain zuhudnya berupa kain tenun.
“Siapa engkau ini, dan apa maumu?” tanya Barshisha. “Aku adalah hamba Allah yang datang untuk menolongmu, dalam rangka mengabdi dan menyembah Allah,” jawab Iblis.
Dengan hati yang tegar Barshisha berkata, “Siapa yang hendak mengabdi kepada Allah, cukuplah Allah sendiri yang menolongnya dan bukan engkau.”
Kulihat mangsanya begitu tegar pendiriannya, Iblis melangkahkan jurusnya yang lain, selama tiga hari tiga malam Iblis beribadah tanpa makan, minum, dan tidur.
Melihat tamunya beribadah dengan khusyu, hati Barshisha mulai goyah. Ia kagum atas kekhusyuan tamunya yang terus-menerus beribadah kepada Allah tiga hari tiga malam tanpa makan, minum, dan tidur. Padahal, yang sealim ini tetap makan, minum, dan tidur bila beribadah kepada Allah.
Didorong rasa ingin tahu, Barshisha lalu bertanya kepada tamunya bagaimana dia bisa beribadah semacam itu. Iblis mengatakan bahwa ia pernah berbuat dosa, sehingga apabila dia teringat dosanya dia tidak bisa makan dan tidur.
“Bagaimana agar aku bisa beribadah seperti kamu ?” desak Barshisha yang mulai terpikat taktik Iblis. Kemudian Iblis menyarankan agar sekali waktu Barshisha berbuat maksiat kepada Allah, kemudian bertobat kepadanya. Dengan demikian Barshisha akan bisa merasakan kenikmatan beribadah setelah mengenang dosanya.

Kiat Iblis ini ternyata mampu menggoyahkan Barshisha. Dia bertanya kepada Iblis, “Apa yang harus aku kerjakan ?”
“Berzina,” jawab Iblis.
“Tidak mungkin, aku tidak akan melakukan dosa besar itu,” bantah Barshisha.
Iblis berkata, “Jika tidak mau berzina, membunuh orang saja, atau minum khamr yang dosanya lebih ringan.”
“Aku memilih minum khamr, tetapi di mana aku bisa mendapatkannya ?” sahut Barshisha.
“Pergilah ke desa ini,” ujar Iblis sambil menunjukkan nama desa yang dimaksud.
Atas saran Iblis, Barshisha pergi menuju desa yang dimaksud. Di sana dia bertemu dengan seorang perempuan cantik yang berjualan khamr. Ia langsung membelinya dan langsung meneguknya. Karena tidak terbiasa, maka Barshisha langsung mabuk hingga kehilangan kontrol. Kemudian dengan nafsunya, ia memaksa perempuan penjual khamr itu untuk diajak berzina. Malangnya, saat dia memperkosa perempuan tersebut, ia kepergok suaminya, maka dipukullah dia hingga hampir mati.
Saat korbannya dalam kepayahan, Iblis yang menyamar sebagai seorang alim itu berubah menjadi manusia biasa. Ia melaporkan peristiwa itu ke pengadilan dengan Barshisha sebagai terdakwa. Oleh pengadilan Barshisha dijatuhi hukuman cambuk 80 kali, sebagai hukuman minum khamr. Ditambah cambukan 100 kali atas hukuman zina, dan hakim memutuskan Barshisha dihukum gantung sebagai ganti darah.

Saat Barshisha digantung itu, Iblis datang menghampirinya dan berkata, “Bagaimana keadaanmu Barshisha ?”
Barshisha menjawab, “Siapa yang mengikuti orang jahat, inilah akibatnya,” jawab Barshisha.
Iblis berkata, “Aku sudah berupaya 200 tahun menggodamu sampai berhasil hari ini engkau digantung. Jika engkau ingin turun, aku dapat menolongmu tetapi ada syaratnya. Sujudlah kepadaku,” ujar Iblis yang masih berupaya menjebloskan mangsanya.
Barshisha, yang sudah kehilangan benteng imannya berkata, “Bagaimana aku dapat bersujud kepadamu sedang tubuhku berada dalam gantungan ?” “Tidak perlu cukup engkau bersujud dan beriman dalam hati kepadaku,” kata Iblis menegaskan. Maka, bersujudlah Barshisha dalam hatinya menuruti saran Iblis. Matilah ia dalam kekafiran menyembah Iblis.

[Sumber : Buku 1001 Kisah-Kisah Nyata oleh Achmad Sunarto telah diterbitkan oleh penerbit CV Firdaus, Jln. Kramat Sentiong Masjid, No. E 105, Telp. (021) 3144738, Jakarta Pusat]

http://www.alislam.or.id/
Read On 0 komentar

Andaikata Aku Bisa Memberi Lebih Banyak Lagi...

Seperti yang telah biasa dilakukan ketika salah satu sahabatnya meninggal dunia, maka Rasulullah SAW mengantar jenazahnya sampai ke kuburan. Dan pada saat pulangnya disempatkannya singgah untuk menghibur dan menenangkan keluarga almarhum supaya tetap bersabar dan tawakal menerima musibah itu.
Kemudian Rasulullah SAW bertanya, “Tidakkah almarhum mengucapkan wasiat sebelum wafatnya?”. Istrinya almarhum menjawab, “Saya mendengar dia mengatakan sesuatu diantara dengkur nafasnya yang tersengal-sengal menjelang ajal”. “Apa yang dikatakannya?”. “Saya tidak tahu, ya Rasulullah SAW, apakah ucapannya itu sekedar rintihan sebelum mati, ataukah rintihan pedih karena dasyatnya sakaratul maut. Cuma, ucapannya memang sulit dipahami lantaran merupakan kalimat yang terpotong-potong.” “Bagaimana bunyinya?” desak Rasulullah SAW. Istri yang setia itu menjawab, “Suami saya mengatakan “Andaikata lebih jauh lagi…andaikata yang masih baru…..andaikata semuanya….” hanya itulah yang tertangkap sehingga kami bingung dibuatnya. Apakah perkataan-perkataan itu igauan dalam keadaan tidak sadar, ataukah pesan-pesan yang tidak selesai?” Rasulullah SAW tersenyum “sungguh yang diucapkan suamimu itu tidak keliru”.

Kisahnya begini. Pada suatu hari ia sedang bergegas akan ke masjid untuk melaksanakan shalat Jum’at. Ditengah jalan ia berjumpa dengan orang buta yang bertujuan sama. Si buta itu tersaruk-saruk karena tidak ada yang menuntun. Maka suamimu yang membimbingnya hingga tiba di masjid. Tatkala hendak menghembuskan nafas penghabisan, ia menyaksikan pahala amal sholehnya itu, lalu iapun berkata “Andaikan lebih jauh lagi”. Maksudnya, andaikata jalan ke masjid itu lebih jauh lagi, pasti pahalanya lebih besar pula.

Ucapan lainnya ya Rasulullah SAW?” tanya sang istri mulai tertarik. Nabi menjawab, “Adapun ucapannya yang kedua dikatakannya tatkala, ia melihat hasil perbuatannya yang lain. Sebab pada hari berikutnya, waktu ia pergi ke masjid pagi-pagi, sedangkan cuaca dingin sekali, di tepi jalan ia melihat seorang lelaki tua yang tengah duduk menggigil, kedinginan. Kebetulan suamimu membawa sebuah mantel baru, selain yang dipakainya. Maka ia mencopot mantelnya yang lama, diberikannya kepada lelaki tersebut. Dan mantelnya yang baru lalu dikenakannya. Menjelang saat-saat terakhirnya, suamimu melihat balasan amal kebajikannya itu sehingga ia pun menyesal dan berkata, “Andaikata yang masih baru kuberikan kepadanya dan bukan mantelku yang lama, pasti pahalaku jauh lebih besar lagi”. Itulah yang dikatakan suamimu selengkapnya.

Kemudian, ucapannya yang ketiga, apa maksudnya, ya Rasulullah SAW?” tanya sang istri makin ingin tahu. Dengan sabar Nabi menjelaskan, “Ingatkah kamu pada suatu ketika suamimu datang dalam keadaan sangat lapar dan meminta disediakan makanan? Engkau menghidangkan sepotong roti yang telah dicampur dengan daging. Namun, tatkala hendak dimakannya, tiba-tiba seorang musafir mengetuk pintu dan meminta makanan. Suamimu lantas membagi rotinya menjadi dua potong, yang sebelah diberikan kepada musafir itu. Dengan demikian, pada waktu suamimu akan menghembuskan nafasnya, ia menyaksikan betapa besarnya pahala dari amalannya itu. Karenanya, ia pun menyesal dan berkata ‘kalau aku tahu begini hasilnya, musafir itu tidak hanya kuberi separoh. Sebab andaikata semuanya kuberikan kepadanya, sudah pasti ganjaranku akan berlipat ganda.

Begitulah keadilan Tuhan. Pada hakekatnya, apabila kita berbuat baik, sebetulnya kita juga yang beruntung, bukan orang lain. Lantaran segala tindak-tanduk kita tidak lepas dari penilaian Allah. Sama halnya jika kita berbuat buruk. Akibatnya juga menimpa kita sendiri. “Kalau kamu berbuat baik, sebetulnya kamu berbuat baik untuk dirimu. Dan jika kamu berbuat buruk, berarti kamu telah berbuat buruk atas dirimu pula.” (QS.Al Isra’: 7)

http://www.pesantrenonline.com/
Read On 0 komentar

Toleransi Seorang Shalahuddin al-Ayubi

Pada suatu hari, Shalahudin al-Ayubi sedang duduk di dalam perkemahan. Di saat dia sedang serius memberikan wejangan, tiba-tiba ada seorang perempuan kafir berdiri di depan perkemahannya. Perempuan berwajah muram ini berteriak dengan suara yang memekakkan telinga, sehingga suasana menjadi gaduh.

Melihat kejadian tersebut, para prajurit segera bertindak menjauhkan perempuan itu dari perkemahan. Namun, Shalahudin mencegah dan memerintahkan para prajurit agar membawa masuk perempuan itu. Begitu perempuan itu menghadap, pimpinan umat yang berhasil merebut kembali Jerusalem dari penguasaan Tentara Salib ini segera menanyakan hal yang menyebabkan perempuan itu bersedih. Ia menjawab, ''Anakku diculik dan suamiku disandera sebagai tawanan perang. Padahal, suamikulah yang memberikan nafkah buatku.''

Pernyataan perempuan tersebut membuat Shalahudin terharu. Seketika itu juga dia memerintahkan para prajurit agar segera melepaskan suami perempuan itu. Dia juga memerintahkan para prajurit, agar mencari anak yang hilang diculik.

Mendapatkan perintah tersebut, secepat kilat para prajurit melaksanakannya. Sampai akhirnya berhasil mendapatkan anak yang diculik itu. Dan dengan segera pula, si anak diserahkan kepada ibunya. Betapa bahagianya perempuan itu mendapatkan suami dan anaknya kembali ke pangkuannya.

Perempuan tersebut sangat berterima kasih serta memuji Shalahudin. Mendengar pernyataan dari perempuan itu, Shalahudin berkata, ''Kami tidak melakukan sesuatu apa pun, kecuali apa yang telah diperitahkan oleh agama kami.''

Mendengar ungkapan Shalahudin, perempuan itu lantas bertanya, ''Apakah agama tuan memerintahkan kasih sayang terhadap para musuh, serta membantu orang-orang yang lemah?'' ''Benar bunda,'' jawab Shalahudin. ''Islam adalah agama Allah di dunia ini. Agama-Nyalah yang senantiasa memberikan rahmat serta menjadi penyelamat bagi seluruh umat.''

Mendapat jawaban ini, perempuan itu tergugah benaknya. Ia pun bersyahadat bersama suaminya. ''Saya mencintai agama yang senantiasa bertoleransi dan mulia itu, seperti yang tecermin dari sifat-sifat dan akhlak tuan.''

Begitulah dakwah yang diajarkan Shalahudin. Ia menunjukkan dua hal sekaligus, Islam adalah agama yang santun dan mengajarkan toleransi. Dialah pemimpin Islam yang disebut dengan nada hormat, bahkan di kalangan pembesar Tentara Salib. Shalahudin menunjukkan, Islam adalah rahmat bagi seluruh alam. Islam membawa perasaan nyaman terhadap pemeluknya, juga membuat orang lain simpati.

(Muhammad Zaidun Khadliri, Hikmah , Republika)
Read On 0 komentar

Indahnya Beristrikan Seorang Sholihah

Hari itu merupakan hari bahagiaku, alhamdulillah. Aku telah menyempurnakan separo dienku: menikah. Aku benar-benar bahagia sehingga tak lupa setiap sepertiga malam terakhir aku mengucap puji syukur kepada-Nya.

Hari demi hari pun aku lalui dengan kebahagiaan bersama istri tercintaku. Aku tidak menyangka, begitu sayangnya Allah Subhanahu wa Ta’ala kepadaku dengan memberikan seorang pendamping yang setiap waktu selalu mengingatkanku ketika aku lalai kepada-Nya. Wajahnya yang tertutup cadar, menambah hatiku tenang.

Yang lebih bersyukur lagi, hatiku terasa tenteram ketika harus meninggalkan istri untuk bekerja. Saat pergi dan pulang kerja, senyuman indahnya selalu menyambutku sebelum aku berucap salam. Bahkan, sampai saat ini aku belum bisa mendahului ucapan salamnya karena selalu terdahului olehnya. Subhanallah.

Wida, begitulah nama istri shalihahku. Usianya lebih tua dua tahun dari aku. Sekalipun usianya lebih tua, dia belum pernah berkata lebih keras daripada perkataanku. Setiap yang aku perintahkan, selalu dituruti dengan senyuman indahnya.

Sempat aku mencobanya memerintah berbohong dengan mengatakan kalau nanti ada yang mencariku, katakanlah aku tidak ada. Mendengar itu, istriku langsung menangis dan memelukku seraya berujar, “Apakah Aa’ (Kakanda) tega membiarkan aku berada di neraka karena perbuatan ini?”

Aku pun tersenyum, lalu kukatakan bahwa itu hanya ingin mencoba keimanannya. Mendengar itu, langsung saja aku mendapat cubitan kecil darinya dan kami pun tertawa.

Sungguh, ini adalah kebahagiaan yang teramat sangat sehingga jika aku harus menggambarkanya, aku tak akan bisa. Dan sangat benar apa yang dikatakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Dunia hanyalah kesenangan sementara dan tidak ada kesenangan dunia yang lebih baik daripada istri shalihah.” (Riwayat An-Nasa’i dan Ibnu Majah).

Hari terus berganti dan tak terasa usia pernikahanku sudah lima bulan. Masya Allah.

Suatu malam istriku menangis tersedu-sedu, sehingga membangunkanku yang tengah tertidur. Merasa heran, aku pun bertanya kenapa dia menangis malam-malam begini.

Istriku hanya diam tertunduk dan masih dalam isakan tangisnya. Aku peluk erat dan aku belai rambutnya yang hitam pekat. Aku coba bertanya sekali lagi, apa penyebabnya? Setahuku, istriku cuma menangis ketika dalam keadaan shalat malam, tidak seperti malam itu.

Akhirnya, dengan berat hati istriku menceritakan penyebabnya. Astaghfirullah…alhamdulillah, aku terperanjat dan juga bahagia mendengar alasannya menangis. Istriku bilang, dia sedang hamil tiga bulan dan malam itu lagi mengidam. Dia ingin makan mie ayam kesukaanya tapi takut aku marah jika permohonannya itu diutarakan. Terlebih malam-malam begini, dia tidak mau merepotkanku.

Demi istri tersayang, malam itu aku bergegas meluncur mencari mie ayam kesukaannya. Alhamdulillah, walau memerlukan waktu yang lama dan harus mengiba kepada tukang mie (karena sudah tutup), akhirnya aku pun mendapatkannya.

Awalnya, tukang mie enggan memenuhi permintaanku. Namun setelah aku ceritakan apa yang terjadi, tukang mie itu pun tersenyum dan langsung menuju dapurnya. Tak lama kemudian memberikan bingkisan kecil berisi mie ayam permintaan istriku.

Ketika aku hendak membayar, dengan santun tukang mie tersebut berujar, “Nak, simpanlah uang itu buat anakmu kelak karena malam ini bapak merasa bahagia bisa menolong kamu. Sungguh pembalasan Allah lebih aku utamakan.”

Aku terenyuh. Begitu ikhlasnya si penjual mie itu. Setelah mengucapkan syukur dan tak lupa berterima kasih, aku pamit. Aku lihat senyumannya mengantar kepergianku.

“Alhamdulillah,” kata istriku ketika aku ceritakan begitu baiknya tukang mie itu. “Allah begitu sayang kepada kita dan ini harus kita syukuri, sungguh Allah akan menggantinya dengan pahala berlipat apa yang kita dan bapak itu lakukan malam ini,” katanya. Aku pun mengaminkannya.

* (Kusnadi Assaini/Hidayatullah)
Read On 0 komentar

Bidadari Syurga, Ainul Mardiyah

Kisah ini sudah sangat terkenal. Dikabarkan bahwa kisah ini hanyalah karangan seorang sastrawan Aceh, untuk memberikan semangat kepada pemuda pemuda di Aceh dalam melawan penjajahan. Wallahu a’lam. Namun demikian, alangkah bagusnya jika kita bisa mengambil ibroh/pelajaran dari kisah kisah tersebut.
_________________________________________________

Dalam suatu kisah yang dipaparkan Al Yafi’i dari Syeikh Abdul Wahid bin Zahid, dikatakan: Suatu hari ketika kami sedang bersiap-siap hendak berangkat perang, aku meminta beberapa teman untuk membaca sebuah ayat. Salah seorang lelaki tampil sambil membaca ayat Surah At Taubah ayat 111, yang artinya sebagai berikut :


"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan sorga untuk mereka"

Selesai ayat itu dibaca, seorang anak muda yang berusia 15 tahun atau lebih bangkit dari tempat duduknya. Ia mendapat harta warisan cukup besar dari ayahnya yang telah meninggal. Ia berkata:"Wahai Abdul Wahid, benarkah Allah membeli dari orang-orang mu’min diri dan harta mereka dengan sorga untuk mereka?" "Ya, benar, anak muda" kata Abdul Wahid. Anak muda itu melanjutkan:"Kalau begitu saksikanlah, bahwa diriku dan hartaku mulai sekarang aku jual dengan sorga."

Anak muda itu kemudian mengeluarkan semua hartanya untuk disedekahkan bagi perjuangan. Hanya kuda dan pedangnya saja yang tidak. Sampai tiba waktu pemberangkatan pasukan, ternyata pemuda itu datang lebih awal. Dialah orang yang pertama kali kulihat. Dalam perjalanan ke medan perang pemuda itu kuperhatikan siang berpuasa dan malamnya dia bangun untuk beribadah. Dia rajin mengurus unta-unta dan kuda tunggangan pasukan serta sering menjaga kami bila sedang tidur.

Sewaktu sampai di daerah Romawi dan kami sedang mengatur siasat pertempuran, tiba-tiba dia maju ke depan medan dan berteriak:"Hai, aku ingin segera bertemu dengan Ainul Mardhiyah . ." Kami menduga dia mulai ragu dan pikirannya kacau, kudekati dan kutanyakan siapakah Ainul Mardiyah itu. Ia menjawab: "Tadi sewaktu aku sedang kantuk, selintas aku bermimpi. Seseorang datang kepadaku seraya berkata: "Pergilah kepada Ainul Mardiyah." Ia juga mengajakku memasuki taman yang di bawahnya terdapat sungai dengan air yang jernih dan dipinggirnya nampak para bidadari duduk berhias dengan mengenakan perhiasan-perhiasan yang indah. Manakala melihat kedatanganku , mereka bergembira seraya berkata: "Inilah suami Ainul Mardhiyah . . . . ."

"Assalamu’alaikum" kataku bersalam kepada mereka. "Adakah di antara kalian yang bernama Ainul Mardhiyah?" Mereka menjawab salamku dan berkata: "Tidak, kami ini adalah pembantunya. Teruskanlah langkahmu" Beberapa kali aku sampai pada taman-taman yang lebih indah dengan bidadari yang lebih cantik, tapi jawaban mereka sama, mereka adalah pembantunya dan menyuruh aku meneruskan langkah.

Akhirnya aku sampai pada kemah yang terbuat dari mutiara berwarna putih. Di pintu kemah terdapat seorang bidadari yang sewaktu melihat kehadiranku dia nampak sangat gembira dan memanggil-manggil yang ada di dalam: "Hai Ainul Mardhiyah, ini suamimu datang . ..."

Ketika aku dipersilahkan masuk kulihat bidadari yang sangat cantik duduk di atas sofa emas yang ditaburi permata dan yaqut. Waktu aku mendekat dia berkata: "Bersabarlah, kamu belum diijinkan lebih dekat kepadaku, karena ruh kehidupan dunia masih ada dalam dirimu." Anak muda melanjutkan kisah mimpinya: "Lalu aku terbangun, wahai Abdul Hamid. Aku tidak sabar lagi menanti terlalu lama".

Belum lagi percakapan kami selesai, tiba-tiba sekelompok pasukan musuh terdiri sembilan orang menyerbu kami. Pemuda itu segera bangkit dan melabrak mereka. Selesai pertempuran aku mencoba meneliti, kulihat anak muda itu penuh luka ditubuhnya dan berlumuran darah. Ia nampak tersenyum gembira, senyum penuh kebahagiaan, hingga ruhnya berpisah dari badannya untuk meninggalkan dunia.

( Irsyadul Ibad ).
http://islam.blogsome.com/category/kisah-teladan/
Read On 0 komentar

Doa Manis Seorang UWAIS AL-QARNI

Rabi’ bin Khutsaim berkata, "Aku pergi ke tempat Uwais al-Qarni, aku mendapati beliau sedang duduk setelah selesai menunaikan shalat Shubuh."

Aku berkata (pada diriku -pent), "Aku tidak akan mengganggunya dari bertasbih. Setelah masuk waktu Zhuhur, beliau mengerjakan shalat Zhuhur. Dan begitu masuk waktu Ashar beliau shalat Ashar. Selesai shalat Ashar beliau duduk sambil berdzikir hingga tiba waktu Maghrib. Setelah shalat Maghrib beliau menunggu waktu Isya’, kemudian shalat Isya’.

Selesai shalat Isya’ beliau mengerjakan shalat hingga menjelang Shubuh. Setelah shalat Shubuh beliau duduk dan tanpa sengaja tertidur. Tiba-tiba saja beliau terbangun. Ketika itu aku mendengar dia berkata, Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari mata yang senang tidur, dan perut yang tidak merasa kenyang."

Sumber : http://www.alsofwah.or.id/?pilih=lihatkisah&id=149
Read On 0 komentar

Tangisan Abdullah bin Marzuq

Abu Sa'id meriwayatkan dengan sanadnya bahwa Abdullah bin Marzuq pernah bersama al-Mahdi di tengah dunia yang luas. Suatu hari ia minum dengan diiringi senda gurau dan sima' (nyanyian dan musik), sehingga tidak shalat Zhuhur, Ashar dan Maghrib. Sebenarnya sahaya wanitanya sudah mengingat-kan tentang semua itu. Ketika datang waktu Isya', sahaya wa-nita tersebut datang dengan membawa bara api lalu diletakkan di atas kakinya. Dia terperanjat seraya berkata, "Apa ini?" Sahaya wanita itu berkata, "Ini bara api dunia, lalu bagaimana halnya dengan api neraka?" Maka ia pun menangis dengan tangisan yang keras. Kemudian ia menunaikan shalat sambil menangis.

Apa yang dikatakan sahaya wanita tersebut sangat ber-kesan dalam jiwanya. Ia tidak melihat sesuatu pun yang dapat menyelamatkan dirinya kecuali berpisah dengan hartanya yang selama ini dinikmatinya. Ia lalu memerdekakan para sahaya wanitanya, meminta maaf kepada semua pihak yang pernah berinteraksi dengannya, dan menyedekahkan hartanya yang masih tersisa. Akhirnya ia menjadi penjual sayur, dan sahaya-nya tadi selalu mengikutinya. Suatu kali Sufyan bin Uyainah dan al-Fudhail bin Iyadh menjenguknya, ternyata keduanya menjumpai batu bata di bawah kepalanya dan tidak ada sesuatu pun di bawahnya. Melihat hal itu, Sufyan bin Uyainah berko-mentar untuknya, "Tidaklah seseorang meninggalkan sesuatu karena Allah, melainkan Allah menggantikan untuknya dengan suatu ganti. Apakah yang Allah gantikan kepadamu dari segala yang engkau tinggalkan karenaNya?" Ia menjawab, "Ridha de-ngan apa yang aku jalani."

Yakni, ridha dengan kemuliaan zuhud dari dunia yang hina dina ini dengan segala kerusakan dan godaannya yang disifati oleh orang bijak dengan pernyataannya, "Jika datang, ia menjatuhkan. Jika tampak, ia membuat ketakutan. Jika matang, ia menjadi busuk. Betapa banyak orang sakit yang kita jenguk namun kita sendiri tidak mau kembali. Betapa banyak kubur yang dibangun namun kita tidak mau bertaubat. Betapa banyak raja yang memiliki banyak monumen, namun setelah mencapai puncaknya, ia mati."

sumber : http://www.alsofwah.or.id/?pilih=lihatkisah&id=148
Read On 0 komentar

Aku Akan Menuju Surga

Oleh: Aidil Heryana, S.Sosi

Duduknya gelisah! Sesekali wajahnya di arahkan ke langit! Beberapa hari belakangan ini pemuda dari kabilah Aslam itu selalu termenung sendirian. Agaknya dia sedang sibuk memikirkan sesuatu yang membebani hatinya. Pemuda dengan tubuh atletis, kuat, gagah, dan penuh enerjik itu belum dapat jawaban tentang pertanyaan yang selalu menggelayuti pikirannya. Tentang satu keinginan yang tidak lumrah di usianya yang terbilang masih belia. Keinginannya untuk hadir di barisan para mujahid fi sabilillah. Hanya itu! Ya…hanya itu. Di kepalanya hanya tersembul satu pertanyaan,”Adakah jalan yang lebih afdhal dan lebih mulia dari jihad fisabilillah?” Rasa-rasanya tak ada. Sebab itulah satu-satunya jalan jika memang benar-benar telah menjadi tujuan dan niat suci untuk mencari restu dan ridha Allah.

“Demi Allah, inilah satu kesempatan yang sangat baik”, kata hati pemuda itu. Ya….sebab di sana, serombongan kaum muslimin sedang bersiap menuju medan jihad fisabilillah. Sebagian sudah berangkat, sebagian lagi baru datang, dan akan segera berangkat. Semuanya menampakkan wajah senang, pasrah, dan tenang dengan satu iman yang mendalam. Wajah-wajah mereka membayangkan suatu keyakinan penuh, bahwa sebelum ajal datang, berpantang mati. Maut akan datang dimanapun kita berada, yakin bahwa umur itu satu. Kapankah sampai batasnya? Hanya Allah yang Maha Tahu. Bagaimana sebab dan kejadiannya? Takdir Allahlah yang menentukan. Maut, adalah sesuatu yang tak dapat dihindari. Dia pasti datang menjemput manusia. Entah di saat sedang duduk, diam di rumah, atau mungkin ketika dalam perlindungan benteng yang kokoh, mungkin pula sedang bersembunyi di suatu tempat, di gua yang gelap, di jalan raya yang ramai, atau di medan peperangan. Bahkan bukan mustahil maut akan menjemput kala manusia sedang tidur, di atas tempat tidurnya. Semua itu hanya Allah yang berkuasa, dan berkehendak atasnya. Menunggu kedatangan maut memang masa-masa yang paling mendebarkan jiwa. Betapa tidak? Hanya sendiri ini yang dapat dibawa menghadap Penguasa yang Esa kelak. Medan juang fisabillah tersedia bagi mereka yang kuat. Penuh keberanian dan keikhlasan mencari ridho Allah semata. Mereka yang berjiwa suci di tengah-tengah tubuh yang perkasa. Angan-angan ikhlas yang disertai hati yang bersih.

Memang, saat itu keberanian telah menjiwai setiap kalbu kaum muslimin. Panggilan dan dengungan untuk jihad fisabilillah merupakan harapan dan tujuan mereka. Mereka yakin di balik hiruk-pikuknya peperangan, Allah telah menjanjikan imbalan yang setimpal. Selain dengan itu dia dapat membersihkan jiwanya dari berbagai noda. Baik noda-noda aqidah, niat-niat jahat, perbuatan ataupun kekotoran muamalah yang lain. Pengorbanan mereka di medan jihad menunjukkan keluhuran budi. Semua sesuai dengan seruan Allah ’mukhlishiina lahudiini’ hanya untuk Allah semata. Pantas menjadi contoh dan teladan, bahkan sebagai mercusuar yang menerangi dunia dan isi alam semesta.

Itulah renungan hati pemuda Aslam yang gagah itu. Sepenuh hati dia berkata seolah kepada diri sendiri. “Harus! Harus dan mesti aku berbuat sesuatu. Janganlah kemiskinan dan kefakiran ini menjadi hambatan dan penghalang mencapai tujuanku.” Mantap, penuh keyakinan dan semangat yang tinggi pemuda tersebut menggabungkan diri dengan pasukan kaum muslimin. Usia pemuda itu relatif masih muda, namun cara berfikir dan jiwanya cukup matang, kemauanya keras, ketangkasan dan kelincahan menjadi jaminan kegesitannya di medan juang. Namun mengapa pemuda yang begitu bersemangat itu tak dapat ikut serta dalam barisan pejuang? Sebabnya hanya satu. Dia tidak mempunyai bekal dan apapun yang dapat dipakainya berperang karena kemiskinan dan kefakirannya. Sebab pikirnya, tidak mungkin terjun ke medan jihad tanpa berbekal apapun. Tanpa senjata dia tidak mampu melakukan apapun. Bahkan dia tidak akan bisa berbuat apa-apa. Jangankan berperang, untuk menyelamatkan diri saja, tidak mampu.

Inilah daftar pertanyaan panjang yang selalu menjadikan pemuda itu tak henti berpikir. Otaknya selalu disibukkan dengan satu lintasan, satu pertanyaan, bagaimana saya dapat berlaga di medan jihad? Setelah tidak juga dicapainya pemecahan, dia pergi menghadap Rasulullah saw. Diceritakan semua keadaan dan penderitaan serta keinginannya yang besar. Dia memang miskin, fakir dan menderita, namun dia tidak mengangankan apapun dari keikutsertaannya di medan perjuangan. Dikatakannya kepada Rasulullah saw, bahwa dia tidak meminta berbagai pendekatan duniawi kepada Rasulullah. Dia hanya menginginkan bagaimana caranya agar dia dapat masuk barisan pejuang fisabilillah.

Mendengar hal demikian, Rasulullah bertanya, setelah dengan cermat meneliti dan memandang pemuda tersebut: “Hai pemuda, sebenarnya apa yang engkau katakan itu dan apa pula yang engkau harapkan?” “Saya ingin berjuang, ya Rasulullah!” Jawab pemuda itu. “Lalu apa yang menghalangimu untuk melakukan itu”, Tanya Rasulullah saw kemudian. “Saya tidak mempunyai perbekalan apapun untuk persiapan perjuangan itu ya Rasulullah”, Jawab pemuda tersebut terus terang. Alangkah tercengangnya Rasulullah mendengar jawaban itu. Cermat diawasinya wajah pemuda tersebut. Wajah yang berseri-seri, tanpa ragu dan penuh keberanian menghadap maut, sementara di sana banyak kaum munafiqin yang hatinya takut dan gentar apabila mendengar panggilan untuk berjihad fisabilillah.

Demi Allah! Jauh benar perbedaan pemuda itu dengan para munafiqin di sana. Kaum munafiqin yang dihinggapi rasa rendah diri, selalu mementingkan diri-sendiri. Mereka tidak suka dan tidak mau memikul beban dan tanggung jawab demi kebenaran yang hakiki. Kaum yang tidak senang hidup dalam alam kedamaian dan ketentraman dalam ajaran agama yang benar. Mereka lebih suka berada dalam hidup dan suasana kegelapan dan kekalutan. Ibarat kuman-kuman kotor, yang hidupnya hanya untuk mengacau dan menghancurkan apa saja.

Celakalah mereka yang besar dan berbadan tegap namun licik dan kerdil pikiran serta hatinya. Kebanggaanlah bagimu hai pemuda! Semoga Allah banyak menciptakan manusia-manusia sepertimu. Yang dapat menjadi generasi penerusmu. Yang akan menjunjung tinggi izzul Islam wal muslimin, dengan akhlak yang mulia menuju li’illai kalimatillah. Benar, kaum muslimin sangat mendambakan para jiwa yang demikian. Jiwa yang besar penuh keyakinan, dan juga keberanian yang mantap. Sepantasnyalah pemuda seperti dari kabilah Aslam itu mendapat segala keperluan serta keinginanya untuk melaksanakan hasratnya ke medan jihad. Rasulullah saw akhirnya berkata kepada pemuda Aslam tersebut: “Pergilah engkau kepada si Fulan! Dia yang sebenarnya sudah siap lengkap dengan peralatan perang tapi tidak jadi berangkat karena sakit. Nah pergilah kepadanya dan mintalah perlengkapan yang ada padanya.” Pemuda itu pun bergegas menemui orang yang ditunjukkan Rasulullah saw tadi. Katanya kepada si Fulan: “Rasulullah saw menyampaikan salam padamu dan juga pesan. Beliau berpesan agar perlengkapan perang yang engkau miliki yang tidak jadi engkau pakai pergi berperang agar diserahkan kepadaku.” Orang yang tidak jadi berperang itu dengan penuh hormat merespon perintah Rasulullah saw sambil mengucapkan: “Selamat datang wahai utusan Rasulullah! Saya hormati dan taati segala perintah Rasulullah saw.” Segera dia menyuruh istrinya untuk mengambil pakaian dan peralatan perang yang tidak jadi dipakainya. Diserahkan semuanya pada pemuda kabilah Aslam tadi. Sambil mengucapkan terima kasih pemuda tersebut menerima perlengkapan itu. Sebelum dia berangkat dan meninggalkan rumah itu, pemuda tersebut sempat berucap: “Terima kasih yang sebesar-besarnya. Anda telah menghilangkan seluruh duka dan keputusasaanku. Bagimu pahala yang besar dari Allah yang tiada tara.

Terima kasih………Terima kasih.” Pemuda suku Aslam itu kemudian keluar dengan riang. Raut wajahnya menyiratkan kegembiraan yang luar biasa. Dengan berlari-lari dia meningalkan rumah orang tersebut.

Di tengah jalan pemuda tersebut bertemu dengan salah seorang temannya yang terheran-heran dengan ekspresi kegembiraan pemuda tadi. Kemudian temannya bertanya: “Hai, hendak kemana kau?”, “Aku akan menuju jannatil firdaus yang seluas langit dan bumi”, Jawab pemuda itu singkat, mantap penuh keyakinan.

www.dakwatuna.com
Read On 0 komentar
 

About me | Author Contact | Powered By Blogspot | © Copyright  2009