Tampilkan postingan dengan label Muamalah - Kehidupan Bermasyarakat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muamalah - Kehidupan Bermasyarakat. Tampilkan semua postingan

Kepedulian Sosial Dalam Pandangan Islam

Dalam situasi kemiskinan yang makin bertambah dewasa ini, mereka yang dilimpahi rezeki seyogianya turut membantu kaum miskin dan papa. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surah Al-Hadid (57) ayat 7, ''Dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya.''

Sesuai dengan anjuran Alquran itu kini semakin jelas bahwa ketidakpedulian kaum kaya terhadap penderitaan kaum miskin merupakan bahaya terbesar yang telah mengancam hidup masyarakat. Dan kaum kaya sendirilah yang akan menjadi korban ancaman ini. Sedangkan bagi kehidupan bernegara, semakin melebarnya kesenjangan sosial antara kaya dan miskin merupakan ancaman paling utama stabilitas nasional.

Agar hal-hal yang tidak diinginkan itu terjadi, Islam sejak lebih dari 14 abad lalu telah mengantisipasi ancaman ini dengan mewajibkan mereka yang berpunya untuk berzakat. Tak hanya itu, mereka yang berpunya juga dituntut menginfakkan hartanya guna meringankan kehidupan kaum miskin. ''Kamu sekali-kali tidak akan sampai kepada kebaktian (yang sempurna) sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai.'' (Ali Imran [3]: 92).

Menurut ajaran Islam, setiap orang miskin patut memperoleh pertolongan, dan tentu saja merupakan tanggung jawab pemerintah dan orang yang diberi kelimpahan rezeki untuk memberikan pertolongan itu. ''Manusia yang terbaik adalah yang paling berguna bagi masyarakatnya,'' demikian sabda Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadis. Dalam hadis lain yang Muttafaq 'Alaih, Nabi juga bersabda, ''Pada hari kiamat, manusia yang menduduki tempat tertinggi di sisi Allah adalah orang yang paling banyak memajukan kesejahteraan hamba-hamba Allah.''

Kini makin banyak dikumandangkan kehidupan yang harmonis antarmasyarakat. Untuk menciptakan kehidupan yang demikian Islam mengingatkan agar setiap individu saling membantu. Dengan kehidupan yang demikian, setiap individu dalam masyarakat akan saling memperoleh manfaat dari upaya masing-masing untuk memenuhi kebutuhan bersama mereka. Nabi SAW mengibaratkan masyarakat yang demikian seperti satu tubuh, yang apabila satu bagian merasa sakit, bagian lainnya turut menderita.

Islam yang mengakui dan menjunjung tinggi hak milik seseorang tidak membenarkan umatnya mengabaikan mengumpulkan harta. Tapi, Allah juga mengingatkan bahwa harta benda itu merupakan ujian. Semoga hati kita tergerak untuk menaati anjuran Allah untuk memiliki kepedulian sosial membantu mereka yang papa dan miskin.


Republika
Kepedulian Sosial
Oleh : Alwi Shahab
Read On 0 komentar

Mendamaikan Sesama Ummat (Islah)

Oleh : Muhbib Abdul Wahab

''Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali menyuruh (manusia) memberi sedekah, berbuat makruf (baik), atau melakukan islah (perdamaian) di antara manusia. Dan, siapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberinya pahala yang besar.'' (QS Annisa' [4]: 114).

Islah dari segi bahasa berarti memperbaiki, mendamaikan, dan mereformasi. Pelakunya disebut muslih. Seseorang dapat disebut muslih, jika dia memiliki sifat shaleh. Karena itu, islah di satu segi merupakan upaya aktualisasi kesalehan personal sekaligus kesalehan sosial; dan di segi lain mengandung usaha menciptakan kesalehan komunal dan kultural.

Islam itu agama perdamaian dan antikekerasan. Ketika bertemu sesama, setiap Muslim sangat dianjurkan bertegur sapa, memberi senyum, dan mengucapkan salam. Ucapan salam adalah doa sekaligus identitas Muslim untuk senantiasa berdamai, berdoa untuk kerahmatan dan keberkahan sesamanya. Tidak ada yang lebih berharga dalam hidup ini selain perdamaian, keberkahan, dan hidup penuh rahmat dari Allah SWT.

Karena itu, berbuat islah merupakan kewajiban setiap Muslim, lebih-lebih yang bertengkar atau bermusuhan. Bertengkar dan bertindak kekerasan dan anarki itu hanya akan menghabiskan energi secara sia-sia, bahkan cenderung memperburuk citra Islam. Musuh-musuh Islam pasti bersorak-sorai melihat umat Islam saling bertikai.

''Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.'' (QS Al-Anfal [8]: 46).

Islah merupakan kunci penyelesaian masalah dan konflik sosial sekaligus awal terwujudnya kerukunan dan toleransi. Oleh sebab itu, ketika mendapati dua orang sahabat, Ka'ab ibn Malik dan Ibn Haidar bertengkar di Masjid Nabawi, dan suara pertengkaran itu terdengar sampai rumah Rasulullah SAW, beliau langsung keluar melerai dan mendamaikan kedua sahabat Anshar itu. Keduanya diminta untuk saling memaafkan, bertobat kepada Allah, dan berjabat tangan.

Nabi SAW kemudian bersabda, ''Maukah kalian aku tunjukkan perniagaan yang bermanfaat? Engkau mendamaikan sesama manusia jika mereka saling bermusuhan; dan engkau akrabkan mereka, jika mereka saling menjauh.'' (HR Albazzar).


sumber : Hikmah Republika
Read On 0 komentar

Menghindari Perpecahan

Oleh : Dadang Khaerudin

Pertengkaran atau perpecahan (iftiraq) suatu umat sudah diingatkan oleh Rasulullah SAW. Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad dan Ibnu Majah, Rasulullah menyatakan, ''Umatku akan terpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan....''

Dalam skala kecil, perpecahan di tubuh umat Islam sudah ada sejak zaman Rasulullah masih hidup. Namun, Rasulullah tanggap untuk segera menyelesaikannya. Perpecahan akan membawa dampak yang sangat buruk bagi eksistensi umat Islam, apalagi perpecahan yang terjadi itu adalah antargolongan, kelompok, atau lembaga.

Karena itu, ajaran Islam memberikan rambu-rambu kepada setiap umatnya agar tidak terperosok pada perpecahan. Berbagai peringatan dan ancaman telah Allah SWT berikan kepada setiap hamba-Nya yang terlibat perpecahan sehingga dapat mencegah terjadinya perpecahan yang lebih besar yang dilakukan secara berkelompok. Karena bagaimana sebuah perpecahan besar akan terjadi antarkelompok, bila masing-masing individu telah terbina dan dewasa dalam menyikapi segala hal yang dapat memancing perpecahan tersebut.

Rambu-rambu itu seperti berikut ini. Pertama, pertengkaran adalah perbuatan yang tidak dihalalkan alias diharamkan bila dilakukan melebihi tiga hari. Dengan ini, pertengkaran atau perpecahan merupakan perbuatan dosa. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Bukhari yang artinya, ''Haram bagi setiap muslim untuk bertengkar melebihi tiga hari.''

Dan, kedua, perpecahan atau pertengkaran dapat menyebabkan tidak diterimanya shalat seorang Muslim. Berdasarkan hadis riwayat Ibnu Majah yang berbunyi, ''Terdapat tiga golongan yang shalatnya tidak dapat diterima meskipun hanya sejengkal, yaitu imam yang dibenci makmumnya, istri yang dimurkai suaminya (karena kedurhakaannya), dan dua orang yang sedang bertengkar.''

Karena itulah kemudian Allah memerintahkan untuk selalu mempererat tali persaudaraan dan memperkokoh tali persatuan serta menjauhi perpecahan. Allah pun telah mengingatkan kita dalam firman-Nya, ''Dan, berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah. Dan, janganlah kamu bercerai-berai.'' (QS Ali Imron [3]: 103). Maka, mari jaga diri kita untuk tidak jatuh dalam pertikaian sekecil apa pun. Damai itu indah, bukan?

sumber : Republika
Read On 0 komentar

Filosofi Sapu Lidi (Menghindari Perpecahan)

Oleh : Endah Nur Rohmi

''Dan, janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.'' (QS Ali Imraan [3]: 105).

Mari, kita mengingat perumpamaan tentang sapu lidi. Beberapa lidi yang disatukan, kemudian diikat bagian pangkalnya, dapat digunakan untuk bersih-bersih ketimbang hanya sebatang saja. Filosofi di balik perumpamaan itu tak lain adalah persatuan.

Kehidupan manusia dapat berjalan baik, sebagaimana sebuah sapu lidi, jika manusia mempererat ikatannya. Disadari ataupun tidak, manusia membentuk kumpulan berdasarkan ikatan tertentu. Umat Islam merupakan kumpulan dari para Muslim yang terikat oleh kesamaan akidah.

Menjadi ujian bagi akidah umat Islam manakala sebuah konflik memicu perpecahan di dalamnya. Akankah kita membiarkan perselisihan itu terus terjadi dan melemahkan kekuatan umat Islam? Apakah kita mengoreksi diri? Sudahkah akidah Islam dipegang teguh?

Akidah itu mewujud dalam keyakinan di hati, ucapan, dan tindakan. Konsekuensinya adalah bersedia menjadi insan yang bertakwa. Kuat lemahnya akidah tampak dari sejauh mana memosisikan perintah dan larangan-Nya.

Di sinilah letak fungsi koreksi, diperlukan orang lain untuk menilai perbuatan kita. Karena itu, ada kewajiban untuk saling menasihati (QS Al Ashr [103]:3). Hanya saja, manusia memang berbeda dengan lidi. Terdapat potensi perbedaan satu sama lain. Terkait hal ini, Sang Pencipta telah memberikan batas-batasannya.

Selama itu tidak mengutak-atik akidah yang sifatnya tidak dapat diganggu gugat, perbedaan tidak sepatutnya menjadi persoalan. Ketika akal manusia tidak digunakan untuk memikirkan kebenaran secara benar dan tindakan yang diambil tidak pula tepat serta memperturutkan hawa nafsu dengan enggan mendengarkan nasihat orang lain, perselisihan pun muncul yang mengakibatkan perpecahan.

Jika perselisihan itu timbul dan perpecahan umat ada di depan mata, satu-satunya jalan adalah kembali kepada akidah Islam. Sebagaimana lidi yang dengan pasrah menerima dirinya diikat, umat Islam seharusnya juga demikian, bersedia dan rela diikat dengan akidah.

Nasihat ini berlaku bagi semua pihak di dalam umat ini, baik aparat pemerintah maupun masyarakat umum. Akidah merupakan keterangan yang jelas dari Sang Pencipta. Tentunya, kita tidak ingin umat berselisih dan bercerai-berai, padahal akidah telah mengikat kita. Atau, maukah kita termasuk orang-orang yang disebutkan ayat di atas? Naudzubillahi min dzalik!

sumber : Republika
Read On 0 komentar
 

About me | Author Contact | Powered By Blogspot | © Copyright  2009